
Presiden Prabowo Subianto memutuskan untuk memangkas anggaran sejumlah Kementerian/Lembaga (K/L) dalam upaya menciptakan efisiensi anggaran tahun ini. Melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025, Prabowo menginstruksikan penghematan sebesar Rp306,69 triliun dalam APBN dan APBD tahun anggaran 2025. Penghematan ini terdiri dari Rp256,1 triliun dari anggaran kementerian/lembaga dan Rp50,59 triliun dari transfer ke daerah. Langkah ini mencakup pembatasan belanja non-prioritas, seperti pengurangan anggaran untuk kegiatan seremonial, studi banding, dan perjalanan dinas hingga 50%. Selain itu, belanja honorarium dan kegiatan pendukung yang tidak memiliki output terukur juga dibatasi. Penasihat Khusus Presiden Bidang Ekonomi Bambang Brodjonegoro mengatakan, pemotongan anggaran secara masif dapat mengurangi peran konsumsi dalam pertumbuhan ekonomi nasional, yang selama ini menjadi pendorong utama perekonomian. Sehingga, pertumbuhan ekonomi 2025 tidak lagi bisa bergantung pada konsumsi seperti sebelumnya, terutama setelah berakhirnya periode pemilu yang kerap meningkatkan belanja negara.
Sementara itu, ekonomi Indonesia sepanjang tahun lalu tumbuh melambat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekonomi Indonesia sepanjang 2024 hanya tumbuh sebesar 5,03% secara year-on-year (YOY), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi di tahun 2023 yang mencapai 5,05%. Realisasi pertumbuhan ekonomi ini juga lebih rendah dari target dalam asumsi ekonomi makro APBN 2024 sebesar 5,2%. Adapun produk domestik bruto (PDB) sepanjang 2024 Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) mencapai Rp22.138,96 triliun sementara PDB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) mencapai Rp12.920,28 triliun. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan target pertumbuhan ekonomi pemerintah tahun 2024 tidak tercapai. Pertama, adanya ketidakpastian di tengah momentum pendorong ekonomi seperti pemilu dan pilkada. Kedua, melandainya harga komoditas seperti harga minyak mentah yang menahan pendapatan negara dari sisi ekspor.
Kondisi Ekonomi negara yang melemah tentu menyebabkan ekonomi ditingkat usaha kecil menenggah juga terpengaruh, bagaimanapun juga anggota CU Ngudi Raharjo sebagian besar adalah pelaku UKM, Maka koperasi CU ngudi Raharjo begitu hati hati dan tentunya mengkomonikasikan dengan anggota serta selalu mencoba mengikuti perkembangan Usaha para anggota, tentu dibarengi adanya kebijakan yang membatu Anggota dalam mendapatkan modal yang ringan, dan pendampingan pasca pencairan modal. CU Ngudi Raharjo memberi keringanan bagi yang terlambat atau kurang dalam pengembalian angsuran dengan memperingan sanksi ataupun menjadwalkan ulang dan merestrukturisasi pinjaman. Semoga Tahun 2025 dapat dilalui dengan baik dan tentunya Ekonomi anggota semakin Meningkat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar